24 April 2014

Kenapa Harus Bis?



Sesungguhnya jengkel menyerang, serasa begitu terpukul, nggrundhel, bosan, mendengar tanya soal kekontra'an seseorang pada objek kemania'an-ku. Pun aku jelentrehkan sepanjang benang tak berujung, niscaya butir butir pasal pembelaan-diri'ku itu tak mudah olehnya untuk dimengerti.
Yaaah, meski sadarku mengilhami akan alasan 'keheranan' lah yg menjadi pelopor kalimat yg diikuti tanda baca clurit itu menyanyatku.
Serangkai kata pencari fakta tentang jawaban "Kenapa harus bis?" lagi dan lagi hadir menghadap, bahkan terkadang menjelma bagai sebuah hina bagiku tatkala dibumbui dengan 'fly to destination' sebagai bahan pertimbangannya.
Satu orang satu selera, kiranya cukup menjadikan gambaran akan fakta tentang perspsi seseorang yg selalu berbeda. Dan bilamana pilihanku memihak pada bis, bukan pada 'montor mabur', itu normal bin wajar plus tidak janggal. Tanya kenapa?
Menembus kaca bis sepanjang perjalanan bisa menghdirkan mozaik tersendiri, berbagai warna isian hidup mampu tertangkap pandang dari dalam kabin. Baik yg berada di lingkup lalu lintas seperti truk over muatan, mobil mewah, becak, pelanggaran lalin, ulah ugal ugalan, atau kecelakaan. Maupun yg terinteraksi disekitarnya, bangunan megah, warung remang remang, sungai, hutan, orang pacaran, bahkan cabe cabean sekalipun. Yg terkadang dari sinilah muncul ironi ironi tentang arti syukur sebuah hidup ini.
Kalau dalam kabin pesawat? Adakah yg pernah melihat elang, meteor, atau pesawat lain? Yg ada hanyalah pemandangan para biduanita bertubuh aduhai berparas cihuy lengkap dengan ramah tamah dan senyum palsunya. Bagaimana tidak palsu, senyum khas yg disuguhkan tak luput dari soal tuntutan kerja, dimutlakkan menyikapi apa yg tengah dihadapi dengan penuh sabar dan santun, maka tak lebih apa yg terasa spesial oleh para penyanjung maskapainya sesungguhnya performa belaka yg memang sudah menjadi tugasnya dalam berkarir.
Jelas berbeda dengan ramah tamah yg tercipta dari profesional pegang setir, yg tugas sejatinya membawa bis dengan aman dan nyaman, niscaya etikanya terlahir dari lubuk hati penuh keikhlasan.
Berada dalam bis mampu menciptakan sensasi adrenalin, menimbulkan rasa yg deg deg sir tatkala speednya memucuk, melewati tikungan setajam silet, buka jalur, selap selip, biarpun mata merem karena takut sekalipun, namun reality keadaannya tak termusnakan oleh deteksi jantung.
Dalam dekapan sayap burung besi, anteng anteng mawon rasanya, meski kecepatannya berbanding 15 kali dengan bis, akan tetapi ketika kokpit telah berada dalam mode auto-pilot yg notabene pesawat tidak sedang take-off atau landing, jangankan untuk mendetail berapa knot kecepatannya, merasakan pesawatnya banter apa alon aja susah, monoton...
Biarpun soal IDR sebenarnya tidak menjadi masalah untukku, karena selama harga tiket singa melet tidak melangit 2x lipat dengan harga tiket singa udara, bis tetap menjadi rekomendasi untuk urusan traveling.


Namun menanggapi celotehan celotehan argumen tentang unda undi budget pembelian tiket garuda terbang versus garuda lari hanya selisih tipis, ah tenane? Entah lagi promo atau lagi down lah, faktanya tetap saja lebih efisien naik bis. Andaikan banderol rupiah antara penjelajah angkasa dan petarung darat sama besar, itu hanya sebatas harga tiket doank. Biasanya untuk ke dan dari bandara harus menggunakan moda transportasi lain yg tentunya butuh extra biaya, belum lagi plus rupiah yg mesti diiurkan guna memenuhi kewajiban asuransi kecelakaan. Lha tapi kalau kecelakaan pesawat asuransinya lebih besar to? Owh, kita ingin selamat sampai tujuan bosss, bukan ingin mencari asuransi, jadi soal itu tak perlu menjadi bahan compare.


Mau membelah awan atau membelah kemacetan seh oke aja, namun persepsiku kalau naik bis adalah pilihan, sedang naik pesawat merupakan keharusan. Bisa saja aku berpaling dari bis dan menghamba pesawat untuk beberapa waktu, namun itu karena sebab tertentu yg memaksaku untuk bercengkerama di udara. Karena sebelum merasakan mengangkasa, aku tak pernah punya keinginan untuk itu, dan setelah merasakannya pun jua tak pernah aku ingin lagi lagi dan lagi.
So, intinya kenapa harus bis? Karena bis adalah pilihan. TITIK!

2 comments:

  1. singa meletnya punya paruh ternyata kalau dilihat lihat

    ReplyDelete