Total Tayangan Laman

Selasa, 25 Juni 2013

Gunung Mulia Bumel, Favorite Bus Putih Abu Abu

Berawal dari acara hunting yg telah terencana dari minggu lalu, maka pagi itu aku beranjak dari rumah untuk menuju lokasi yg bakal menjadi background'nya dengan naik bis.
Dari arah terbitnya matahari, terlihat sebuah bis bumel putih dan itu pulalah yg membawaku mencapai jembatan Kalimider, sebuah jembatan yg merupakan titik perbatasan antara kecamatan Slogohimo dan Purwantoro.
Ku pilih deretan kursi paling belakang sebagai singgasanaku dalam menempuh jarak sekitar 6km itu.
Kondektur, sesuatu yg jelas tak asing lagi pada mata yg sedang melayangkan pandang ke kabin bis bumel, segera ku umpankan tanganku yg menggenggam dua lembar pecahan 2000'an pada kasir jalan itu. Masih segar teringat olehku, "EKO", yups itulah nama asisten keuangan pada armada Gunung Mulia 22 Sabtu itu. Kiranya tak kurang dari empat tahun aku tak pernah bertemu denganya seusai aku mendapat ijazah STM pada 2008 lalu, tak ada niat untuk berbasa basi dalam sepatah katapun dengannya, toh pikirku mana mungkin dia masih ingat dengan roman wajahku.
"Arep nyandi?", tanyanya padaku, hmmm pasti dia cuma sok tau saja padaku karena kaos yg ku sandang ini bercorak gambar Legacy SR1, jadi mungkin dia sok akrab dengan para penggemar bis. "Jatisrono", sekata tanpa embelan ku balaskan.
"Saiki kerjo neng endi? Bar lulus kok ora tau ketok?", ups, mungkinkah dia masih ingat pada aku yg dulunya sering berjumpa dalam suasana desak desakan di armada Gunung Mulia 53?

Bersumber dari fenomena pagi itu, aku jadi teringat akan kenangan masa masa putih abu abu ku dulu kala, yg mana di ketika itu seorang pelajar tingkat menengah atas begitu mengidolakan armada Gunung Mulia sebagai sarana bertransportasi antara rumah dan sekolah.
Di dekade itu, ku ingat ada 11 unit armada yg mengisi jalur Solo-Purwantoro dan satu unit yg ditugaskan sebagai armada cadangan. Jam paling awal diisi oleh 06 yg biasanya dipenuhi oleh anak sekolahan Jatisrono baik berangkat ke sekolah ataupun pulangnya (ndilalah kok jamnya pas banget), lalu tiga diposisi terakhir adalah 50, 51, dan 53 yg dilanggani oleh penyandang osis dari Wonogiri sewaktu pulang sekolah.
Apalagi kalau hari itu adalah Sabtu, dimana yg biasanya ngekost pun pada pulang, hmmm harap harap cemas deh, jangankan tempat duduk, secelah ruang untuk menapakkan kaki dan pegangan tangan pun susah diperebutkan.
Padahal, andaipun berkenan, saat itu ada bis dari PO lain sebagai selingan dari urutan jam Gunung Mulia, atau kalau tidak, di belakang jam Gunung Mulia juga masih ada bis lain yg cukup longgar. Namun kenapa ya, saat itu mereka lebih demen berdesakan dalam sebuah ruang yg panjangnya tak lebih dari 12 meter itu. Toh juga gak ada sistem member yg bisa memberikan diskon pada penumpang langganannya, jadi harga tetap sebanding dengan bis lain, gak ada pula undian berhadiah bagi mereka yg sering ikut.
Lantas apa yg mengilhami kegilaan mereka pada bis berbadan putih itu? Gengsi... Ya, itulah niscayanya. Sebagai manusiawi yg hidup di usia belasan, tentu emosional merupakan warna dari keremajaannya. Wajar saja, di samping mereka berlomba dalam menggapai prestasi, soal kepribadian, fashion dan lifestyle pun turut dipertontonkan menjadi pertaruhan, dan itu pulalah yg mencangkup rasa "Bis yg aku naiki mesti bagus" dari mereka.
Memang apa adanya, mungkin hingga kini pun di jalur Solo - Purwantoro itu masih Gunung Mulia lah yg armadanya paling recomended. Sehingga tak mustahil, jiwa seorang muda yg emosinya masih subur berapi api mengidolakan bis berkelir grafis tiga warna garis itu.
Monggo dinilai sendiri, inilah sebagian wajah mulus beberapa prajurit kerajaan Gunung Mulia yg berjuang di jalur pertempuran Solo-Purwantoro...




Sabtu, 08 Juni 2013

Awal Yang Indah


Masa sih keinginanku untuk sekedar menjajal sensasi bis muriaan tak kan berubah dari sebuah mimpi???
Kalimat tanya yg terkadang muncul ke permukaan pikiranku sesaat aku melihat, membaca, bahkan mengingat segala sesuatu yg terkait dengan aromantika bis plat K.
Bila aku nekad memberanikan diri untuk menjadikan nyata mimpi itu, sesulit apakah gerangan? Dari sini ku korek info yg kiranya bisa memberi acuan padaku untuk bisa bercengkerama sepanjang malam dengan satu dari squat PO pengukuh Bumi Kartini itu.
Dalam ceritaku Obsesi Sang Pemimpi, bimbang masih kental, terasa ragu untuk menentukan satu pilihan dari yg ada, Nusantara, Shantika, Muji Jaya, Haryanto, atau Bejeu, itulah urutan kegandrunganku dari pertama dulu hingga terakhir saat ini.
Itu artinya yg saat ini jatuh menjadi optionku Bejeu donk? Yups, betul...
Apa dikata pandanganku tentangnya ya... Rasanya aku begitu tertarik melihat sebuah kendaraan berbody besar dengan warna hitam mengkilat, warna yg lain dari umumnya sebuah bis, bahkan aku mampu tersenyum dengan sendirinya saat ku buka album gambar armada Bejeu di HP ku, entah kenapa aku terkesan "lucu" melihat warna hitam kemilau berhias corak merah kuning itu.
Di samping itu, konon Bejeu ini adalah bis muriaan yg rekomended untuk dipilih dalam hal banter. Jika memang benar, maka warna hitam yg menyelimuti tubuhnya menambah kesan garang dan gagah, coretan merahnya melukiskan jiwa yg pemberani, dan hiasan kuningnya menandai Colorfull servicenya yg excellen.
Sederet kalimat tanya ku layangkan ke dinding group Black Bus Community, intinya bagaimanakah cara yg paling efisien untukku melakukan trip Jakarta-Purwantoro dengan Bejeu.
Rupanya tak sedikit yg antusias mengutarakan sarannya atas postinganku itu. Turun pintu Tol Krapyak lalu nunggu bis ke Solo dari Mangkang, atau turun Terboyo dan ikut Safari Group ke Solo, dan bisa ikut ke Purwodadi dan naik bis Bumel ke Solo, bahkan ada yg menuturkan untuk ikut ke Jepara, turun di Pool dan kembali ke Semarang dengan Travel'nya.
Dari kesemuanya itu, ku rasa usulan untuk turun di Terboyo lah yg paling efisien, karena saat aku turun di sana telah ada bis Safari Group yg siap ke Solo, sehingga tak harus berlama lama menunggu adanya bis lewat seperti halnya aku turun di pintu tol Krapyak.
Ok deh, sudah jelas rencana tripnya, kini tinggal mengatur waktunya saja.
2 Juni 2013, senggang waktu untukku berpijak di Jakarta setelah semalam suntuk berada di kabin Agra Mas, dan rencanaku esok harinya akan kembali ke kampung halaman. Kebetulan, Piyik yg semalam juga bersamaku, besok pun mengiyai ajakanku untuk pulang bareng lagi, dia kan lumayan doyan touring, kerap keluar masuk terminal, jadi kalau bersama dia niscaya lancar deh, urusan transit, urusan calo, biar menjadi beban yg bakal dihadapinya, ya inilah saat yg tepat untukku merangkai cerita bersama Bejeu.
Langsung saja ku hubungi dia yg saat itu tengah menyempatkan waktunya sowan ke rumah pakdenya di Cijantung, dan ternyata dia pun sehati dengan planing'ku untuk berpetualang di Pantura dengan kuda dari Muria.
Ditambah satu temanku lagi Khepik yg juga tengah kesemsem dengan bis hitam itu, makin mendarah daging sajalah tekad ini.
Tak mengulur waktu, segera ku tanyakan ketersediaan tiket di agen Pall via phone.
"Waduh, Bejeu'ne dinten niki telas niku mas...", ups lupa bilang kalau buat keberangkatan besok.
"Nek mbenjing tesih, badhe mandhap pundi, ingkang Jepara nopo Pati...?", jelasnya lantaran dari arah Bogor kan ada dua unit Bejeu yg berangkat dalam sehari, Jepara dan Pati.
"Kulo mandhap Terboyo mawon Pak...".
"Oo namung Terboyo, pripun pilih kersi tengah nopo ngajeng mas...", lho kok pakai ada option pilih kursi segala, biasanya juga sudah di jatah dari sononya.
Yaa, kalau ada pilihan seperti itu ya tetap pilih yg di depan lah, lebih depan kan lebih baik. Akhirnya dapat nomor seat 2CD dan 3C.
Tepat jam 4 sore esok harinya, kami diwajibkan tiba di agen. Biasanya bis hitam itu lewat di Raya Bogor juga jam 5, ini kok sejam sebelumnya sudah ditarget datang ya. Ya mungkin 30 menitnya untuk transaksi tiket yg belum ter'DP sepeserpun, dan sisanya adalah senggang waktu penantian penumpang pada bis, sudah umum terjadi "penumpang bersiap 30 menit sebelum jam keberangkatan".
Waktu luang penantian pada si hitam kami manfaatkan untuk mencari ganjalan perut, siaga macet lah, daripada musisi di lambung ini nanti beraksi dengan keroncongnya dan rumah makan masih jauh.
Tak lama setelah melahap bekal perjalanan malam, bis pun tiba juga di sini, dengan busana Scorpion King bernomor body B13. Si penjaga agen tetap diam, tak ada aba aba untuk menyegerakan kami naik ke bis, padahal Piyik dan Khepik sudah ambil ancang ancang untuk menjinjing tas'nya ke kabin yg mungkin akan discontinue tergantikan versi anyarnya "Scorpion X" itu. Sementara aku sih tetap adem ayem duduk manis di agen, aku kan tau kalau dari sini ada dua unit Bejeu, kalau yg pertama lewat namun agen tak ada reaksi, berarti ikut yg nomor dua.
Namun tak beselang lama, di belakangnya menyusul BE-05, nah ini baru bis yg bakal membawa kami ke terminal ibukota Jawa Tengah itu. Melihat jatah armadanya adalah New Marcopolo High Decker, Khepik sepertinya tak bisa menutupi kekecewaannya, lho kenapa? Ooow, aku baru sadar, pantas saja kemarin dia mengatakan ikut Muriaan kalau bukan Bejeu mending tidak gitu, ternyata oh ternyata niatan hatinya mencoba Black Bus Comunity ini cuma sekedar nyidam dengan si Raja Kalajengking saja. Hmmmm, lucu juga tuh Khepik, masa susah susah ikut Bejeu bukannya pengen ngrasain keganasannya tapi cuma kesemsem sama karoserinya, mending ikut Medal Sekarwangi saja lah ke Sumedang, gak habis 100 ribu juga sudah bisa dapat pengalaman bersemayam di kabin mirip Scania Touring itu.
Kondisi kabin masih terlihat lenggang, baru deretan kursi bagian depan pintu tengah saja yg terisi, selebihnya masih free.
Dua unit LCD TV di balik kaca sekat antara ruang kemudi dan rest penumpang benar difungsikan sebagai entertaimen, tak hanya mading interior semata. Di atas pintu akses dua area itu tertempel stiker kewajiban awak bus untuk memberikan kesempatan sholat subuh bagi penumpang yg tengah bersamanya, wah ternyata sungguh islamic'nya bis bis dari pesisir utara Jawa Tengah ini, tak kira hanya Haryanto kemudian disusul Shantika saja yg menspesialkan waktu ibadah, ternyata Bejeu pun tak jua menanggalkan pelayanan mulia itu di samping jago ngeblong yg telah menjadi imagenya.


Oh iya baru teringat, ini kan pelopor bis yg mengenalkan jaringan Wireless di armadanya dengan trendster Hot Spot On The Bus, kudu dicoba lah kebenaran embel embel 2x WiFi di kaca sampingnya itu. Terbukti sih pancaran perangkat jaringan internet gratis itu muncul di HP, namun sayang setelah ku coba untuk browsing selalu gagal, aku amini dengan kesadaranku pada gadjet murahku saja lah.




Dari layar HP'ku inilah awal sadarku bahwa armada ini bernomor lambung B8. Yg setelah ku telusuri di group facebook ternyata berdapur RK8 R235. Sempat aku mengungkapkan keraguanku tentang kinerja mesin varian Hino ini pada Piyik, mampukah segesit Muriaan yg lain? Jawabanya yg kita lihat saja nanti...
Roda mulai bergulir menyusuri jalan raya Bogor, berhubung weekend maka tiada kemacetan yg menghambat lari si hitam ini menuju agen Pasar Induk Kramat Jati. Aku masih tak mengerti tentang dimana titik keberadaan penjual tiket di sini, dan tak jarang ku lihat hanya Muriaan Only yg terbiasa mangkal di depan pasar sayur ini.
Perjalanan berlanjut hingga bermanuver kanan di pertigaan Hek, sampai di perempatan Tamini Square ternyata driver tak mengarahkan lingkar stir'nya ke kiri dan putar kepala di terminal Pinang Ranti seperti bis Soloensis, laju bis tetap lurus menyusuri jalan raya depan TMII untuk selanjutnya masuk di pintu tol Bambu Apus.
Kepadatan lalu lintas menyambut ketika memasuki tol lingkar luar ini, namun masih lumayan lancar, sempat melibas kawan se-homebase MD 041 yg akhirnya mampu membalas dendam saat B8 ku exit pintu tol Jatiasih untuk menyinggahi agen di sana.
Sesaat setelah back to JORR dan bergabung ke tol Jakarta-Cikampek, arus kendaraan ke timur sedikit tersendat. Menyusuri celah celah kemacetan bersama TZ 32 dan Rosin PB108.
Usai jalanan lancar, driver langsung menggeber batangannya hingga mampu mengalahkah Rosin 308 dan Rosin Nona (entah NL berapa) persis di depan rest area Cikarang, tepatnya KM berapa ya, yg jelas tempat langganan nyolar Laju Prima deh.
Tiga PO dari Karanganyar telah ditaklukkan dengan mudahnya, namun bukan berarti tiba saatnya untuk membusungkan dada, di depan masih terlihat satu lagi komplotan bis putih berkelir warna warna cerah itu. Merasa jalan lurusnya terhadang oleh body buatan Morodadi Prima itu, driver berkali kali mengedipkan lampu jauhnya sebagai isyarat "minggir minggir, yg lebih cepat mau lewat", namun seolah pak sopir berseragam pink di depannya itu acuh pada sorot lampu dim yg menyerangnya, dia masih anteng saja melenggang di jalur paling kanan tanpa ada tanda tanda hendak berpindah ke sebelah kirinya. Berulang usaha kusir ku untuk mencari celah dari sisi kiri, namun apa daya, tiada ruang yg kiranya leluasa untuk mengasapi armada ber'NL 201 itu. Perebutan lahan yg di bintangi dua tokoh Hitam dan Putih ini harus berakhir kala bisku harus memasuki rest area km 57 untuk meminum suplemen pembakarkan. Tampak juga di situ ada B13 dan sebuah Haryanto The Phoenix, tak terbaca seri HR berapa.
Lepas dari meneguk solar, roda kembali berputar mengarungi tol Cikampek. Kenek mulai membagikan jatah snack disusul dengan sebotol air mineral 600 ml.
Tugas bagi bagi kelar, kini saatnya beralih ke kewajiban mengontrol tujuan akhir penumpang. Dengan selembar kertas dan sebatang alat tulis, kenek menanyakan pada satu per satu penumpang dimanakah tempat turunnya esok, inilah usaha kenek dalam meningkatkan kejeliannya supaya tidak timbul kejadian penumpang kebablasan.
"Mas'e pundi?", tiba giliranku yg ditanya. "Nek kulo badhe oper Solo, sekeco mandhap Krapyak nopo Terboyo Mas?", tanyaku dengan harapan terbantu olehnya. "Solo, mandhap Semarang, nggih pokok'e nek mboten Krapyak nggeh Terboyo niku Mas, cobi sekedap melih, tak tekokne sopire riyen nggih".
Hmmmm, syukur deh Mas Kenek itu tak segan membantu kami.
Sementara perjalanan telah sampai di Cikampek tepatnya di Raya Pangulah yg terabadikan dengan aksi driverku mengambil alih posisi Haryanto yg tadi bertemu di rest area yg ternyata adalah HR 01.
Seakan mati satu tumbuh seribu, lagi lagi dihadapan mata penumpang bisku namapak bokong Rosalia Indah. Bisku terus membututi si NL 401 itu hingga berhasil meninggalkannya di Patok Besi Subang sebelum akhirnya harus tersusul lagi lantaran penyakit abadi Pantura "macet" di Ciasem.
Merayap beberapa kilo meter, terlihat sistem pengalihan jalur karena proyek renovasi jalan adalah biang keladinya. Sumber Alam ber'tagname "beda tipis" cukup mudah ditakeover di depan rumah makan Dody Jaya seusai lintasan pulih lancar.
Raya berbody Nucleus, tak tertangkap mata berkode seri berapa, menjadi lawan yg nekad mulai dari depan rumah makan Taman Sari. Kenapa aku bilang nekad, hehehe sudah bukan rahasia kalau kegesitan bis Soloensis itu tak sebanding dengan Muriaan, apalagi (katanya seh) armada milik Raya kesemuanya disegel untuk tidak melebihi batas kecepatan 90kph, namun karena kenekatannya yg aku bilang itulah si Nucleus yg mengadopsi jok ala pesawat itu harus terelakan melesat menjauh lantaran bisku mesti masuk ke rumah makan.
Di halaman depan ada jajaran Shantika yg juga tengah menjalani kewajiban dinner, bisku terus menuju ke halaman belakang berkumpul dengan B13 dan B15 yg telah menanti.
Ku susuri tangga tengah kabin menuju pelataran tanah parkir dua unit Scorking dan sebuah New Marco itu, dimana ya tempat service makannya, kami bertiga kan tak pernah menapaki lahan Barokah Indah ini sebelumnya, oh iya mengutip style para driver yg doyan race aja lah, "mbuntutin" penumpang yg sudah melek dengan sisi dan sudut bangunan ini.









Akhirnya ketemu juga counter tempatku berprasmanan ria. Woow lauknya kok banyak banget ya, ada telur asin, ayam, dan juga ikan jambal, pikirku, mana muat piring ini untuk menampung nasi plus tiga macam lauk itu, belum lagi menu pelengkapnya sayur sop dan tumis mie. Ealah, ini kan ruang prasmanan penumpang, bukan ruang khusus kru, jadi jangan berharap yg muluk muluk deh. Benar saja, setelah piring ini tertuang nasi yg aku ambil dengan tangan pribadiku, aku langsung dimanjakan dengan pelayan cantiknya, "Pilih lauk yg mana mas?"... Haha, ternyata gak lain dengan Kota Sari dan Raos Eco, lauk seh variatif tapi itu karena menyediakan kerelatif'an banyak orang, bukan berarti semua bisa seenaknya diambil, intinya pilih salah satu.
Terisi sudah kini ruang ruang kosong dalam perutku. Saat keluar ke halaman, eh ternyata ada satu Kalajengking lagi di sini, B21 telah andil meramaikan parkiran belakang rumah makan ini.
Driver tengah mulai memasuki ruang kokpit, semuanya pun turut memasuki kabin via pintu tengah yg keberadaannya persis di depan toilet.
Bis berjalan meninggalkan rumah makan mengekor pada B13. Namun usaha menempel buritan made in Tentrem itu kurang pakem sehingga Zentrum pun muncul sebagai bentang jarak antara keduanya.
Di depan B13 lamat lamat terlihat bokong seksi SR-1'nya Rosalia Indah,  yg makin lama makin lenyap tak terawang pandang olehku, begitupun B13 tadi.
Sedang driverku tengah asik meliak liuk mengikuti kedipan sein yg dinavigatorkan oleh TZ 32 tadi, konvoi truk truk besar menyulitkan driverku untuk sekedar mendapat secelah akses menuju kemenangan pada Zentrum biru itu.
"Mas, nanti katanya sopirku mending enak turung Mangkang", kembali kenek berpawakan tubuh gemuk itu menyambangiku. "Lha Bejeu dugi Mangkang, bis Solo'an mpun mlaku dereng Mas?", penjelasanku, soalnya kan penjelajah Semarang terbagi dua, Mangkang dan Terboyo, sedang personil di Mangkang sih katanya gak serajin yg di Terboyo, kalau benar begitu harus berapa lama aku membosankan diri dalam sebuah penantian pada Rajawali, New Ismo, Shantika, Raya, atau komplotannya. "Sopirku kathah kenalan sopir Solo'an kok Mas, dadi mengke dipadosne bis operan Solo". Oh gitu ceritanya, ya ok deh, terima kasih banget pak sopir yg sudah turut membantu kebutaanku menjalani trip Jakarta - Purwantoro dengan bis Muriaan ini, ku ikhlaskan biarpun nantinya hanya bakal dijadikan seorang objek sarkawi di bis yg menuju ke Solo.
Cukup lama bisku hanya bisa menempel ketat bokong bertato bola dunia dengan fokus peta Indonesia itu, selama itu pula tiga unit Sinar Jaya, dua Sumber Alam, Handoyo, serta B13 yg tengah nguber The Phoenix "Bunga Teratai" menjadi bulan bulanan empuk dua bis yg bernama nyleneh ini, Bejeu dan Zentrum.
Merem gak ya??? Kebimbanganku yg didasari rasa takut menyaksikan adu speed kendaraan besar ini, kalau tidur gak bisa lihat, tapi kalau lihat sebenere agak takut juga. Ah, masa seh cuma sebatas ini nyaliku, bukankah ini yg selalu aku idamkan, bukankah niatku menjajal Muriaan tak lain dan tak bukan adalah karena aksi ngeblongngnya, dan sekarang mimpi itu tengah menari indah dalam kenyataan, bagaimana andai saja penumpang yg lain tau akan perasaanku dan berkata "yen ra duwe mental, mbok ora usah njajal". Ok lah siapa takut, ini kesempatan tak pasti terulang lagi, biar ku sanksikan skil kedua driver bis plat K ini, biarlah jantung ini makin mendetak cepat layaknya jarum speedometer yg terus naik.
If this is option, so ready for reality. Berujung kemerdekaan teraih di daerah Losarang, TZ 32 mesti mengakui kekalahannya atas B8.
Hingga memasuki tol Cirebon tak ada lagi musuh yg datang ataupun menghadang, hanya bisa menjinakkan Rosin 387 dan sebuah Sinar Jaya saja di sepanjang Bakrie Toll Road itu.
Mata mulai menandakan gejala ngantuk seiring sunyinya musuh yg menyemarakkan arena malam ini. Ku stel reclening seat dan leg restku, tarik selimut, dan mulai deh merangkai mimpi di pelukan jok Aldilla ini.
Tidurpun kok gak bisa nyenyak ya, pasti aku tersadar seketika ku rasakan body yg limbung kanan kiri efek dari goyang tempel oleh pak sopir. Hehe, baru kali ini aku ngrasain Air Suspensi made in karoseri, ternyata cukup nyaman juga.
Mata terbuka saat terasa goncangan yg cukup keras membuatku tak nyaman, ku lihat ke depan, ternyata roda bis ini tak lagi berputar di atas aspal. Biasa lah, pekerjaan persiapan perbaikan jalan, jadi aspal sudah dihancurin, tinggal tanah dibawanya saja yg tersisa, anehnya kenapa juga masih dilewati untuk umum, kenapa lajur tidak dialihkan ke jalur lawan arah seperti biasanya. Lucunya, persis di depan bisku ada dua unit chasis bis yg dikendarai hendak dibajuin ke karoseri, di bis yg udah fix 100% plus Suspensi Udara saja kaya gini getarannya, apalagi di bis yg baru kerangka dan mesin saja, betapa keras efek gesekan antara ban dengan medan terjal yg dirasakan kedua driver chasis itu, hehe...
Meneruskan episode mimpi yg sempat bersambung tadi, sssssss....
Kali ini lumayan pulas tidurku, teringat tadi sampai di Brebes aku memejamkan mata, sekarang sudah sampai di Alas Roban. Bejeu ini melewati jalan yg baru, sehingga tak melewati barisan rumah makan yg ada di raya Plelen, loh ini berarti bis tidak mampir di rumah makan kedua donk, yaah semakin pagi saja aku tiba di Semarang nanti, padahal harapanku supaya agak siangan dikit gitu, jadi biar tak terlalu lama waktuku terisi oleh sebuah acara menunggu.
Dari sisi kanan, tampak B15 melesat mendahuluiku, lho ini kan yg tadi berangkat lebih awal sewaktu di rumah makan, kok sekarang malah nyalip lagi, hmmm mungkin pas aku tertidur tadi B8 ku sempat ngeblong armada berkode trayek BE 04 itu.
Driver'ku terus menempelkan lampu New Marcopolonya pada kap mesin Scorking itu, seakan tiada celah sejengkalpun sebagai jarak antara bisku dan B15. Aku jadi gak habis pikir seandainya terjadi hal hal yg fatal, misalnya aja secara tiba tiba B15 ngerem mendadak, sudah bisa dipastikan lah apa yg terjadi, dan parahnya lagi itu menimpa dua bis dari satu bendera, hehe alangkah tragisnya, namun keberanian driver itu tentu karena sudah dipondasi kuat oleh skilnya yg memang mantap, so don't worry...
Selangkah setelah melintas di depan rumah makan Sari Rasa, Pahala Kencana Jetbus HD Nano Nano hanya bisa pasrah saat diasapi dua Bejeu itu, mungkin kalau aku jadi drivernya PK bakal berkata dalam hati "Sak PO kok yo gacaran...".
Tak lama posisi B15 pun kembali terambil alih, diikuti dengan meluluh lantahkan barisan Kramat Djati New Marcopolo, Gunung Mulia Proteus, dan Shantika Masterbus.
Ups, sampe kelupaan, tadi kan gak mampir di rumah makan yg berarti oplosan dari sopir tengah ke sopir pinggir belum dilakukan, padahal yg tadi menjanjikan bakal bantuin oper ke bis Soloensis kan driver pinggir, waduh gimana nih, mana tak lama lagi menginjak Mangkang lagi.
Ku bangunkan Piyik yg sedang menikmati dunia dalam mimpinya, ah namanya orang baru bangun juga, belum bisa konsent penuh, alhasil gak ada solusi, mufakatnya tetap turun di Terboyo saja lah.
Memasuki terminal Mangkang, disambut B17 yg juga tengah menurunkan penumpang disitu, kenek pun beranjak dari persemayamannya di depan tangga pintu tengah, lantai sesempit itulah yg jadi area peristirahatannya sepanjang perjalanan karena seat CD dan CB terisi oleh penumpang resmi, terdengar lamat lamat perbincangan dengan sopirnya untuk menurunkan penumpang yg ke Solo, namun oleh pak sopir dijawab untuk turun di Terboyo saja.
Yups, lanjut menuju Terboyo bareng B17. Ada penumpang yg turun di depan rumah sakit Sultan Agung, namun Piyik menolak dengan ajakkanku turun di situ, toh kan sama aja, bis ke Solo dari Terboyo juga bakal lewat di situ, ngapain harus ikut ke terminal yg notabene rawan Copet, Calo, dan semacamnya.
"Terboyo Terboyo, yg Terboyo siap siap...", aba aba kenek, segera kami bertiga dan dua orang penumpang lain melangkah meninggalkan kabin armada K 1406 AL itu.
"Suroboyo Suroboyo mas. Nengdi mas, ayo naksi wae. Solo mas, Solo iki bise", riuh para kenek dan calo memecah dinginnya kota Semarang pagi itu.
Terlihat Piyik sibuk dengan usaha menghubungi sahabatnya meminta bantuan informasi, ah kelamaan, aku masih ingat arah arahan yg ku dapati dari group facebook kemarin, kalau sudah di depan terminal Terboyo, langsung menyebrang jalan dan nunggu bis ke Solo di depan pos polisi yg ada di situ. Bertiga kami di situ, tak ada 10 menit sebuah ATB Royal Safari yg tadi terlihat masih ngetem bareng saudaranya Taruna mulai berjalan berputar arah, kami pun ikut dengan bis yg tarifnya sampai ke Solo senilai 14 ribu itu.
Tiba di terminal Tirtonadi mampir ke stand coffe dulu sejenak, hingga akhirnya bis merah berkelir grafis milik Tunggal Dara Putera datang dan segera kamipun naik ke armada ekonomi non ac itu, tiba di Purwantoro jam 09.30. 15 jam, waktu yg normal untuk menjelajah Jakarta - Purwantoro, bahkan bisa dikatakan cepat lantaran satu trip ini mesti tiga kali berganti bis.
Hmmm, kalau sudah kesampaian ternyata gak seperti bayang yg dulu menghantuiku tentang sulitnya menjajal PO Muriaan. Cukup dengan uang 159 ribu sudah bisa menikmati fasilitas tiga jenis kelas bis, Executive, ATB, dan Ekonomi, tak banyak selisih denganku ikut bis Executive Soloensis yg notabene juga akan menelan biaya kisaran itu.
Akhirnya, segala tentang Muriaan yg dulu hanya sebatas angan semata, kini bisa terealisasi lewat perjalanan ini.
Ku awali dari yg hitam dulu, untuk selanjutnya semoga bisa merasakan luxury dan speed namun tetap ekonomis'nya Shantika, Haryanto, Muji Jaya, Nusantara, Madu Kismo, bahkan Selamet sekalipun.

Minggu, 02 Juni 2013

Buktikan Merahmu


Kalau hari Sabtu berangkat ke Jakarta lalu Senin'nya balik lagi ke kampung, sementara hari Minggu yg menjadi interval waktu PP mesti ku manfaatkan untuk ke Bekasi melepas kangen. Hmmm, waktu yg ku rasa singkat, apalagi tujuan utamaku kali ini adalah untuk mengantarkan mama ke Jakarta, sehingga aku harus bisa tiba sedini mungkin, toh kalau bisa sampai lebih awal berarti luang waktu istirahat sebelum aku memulai perjalanan ke Bekasi juga lebih lama.
Repair jalan Pantura yg tak pernah ada hentinya adalah satu hal yg aku kawatirkan menghambat waktu tempuhku, kabarnya usaha Pemerintah untuk kebut perbaikan jalan sebelum tiba arus mudik lebaran menjadi momok di balik kemacetan panjang di daerah Pemanukan.
Intinya, aku harus mencari solusi agarku tak terjebak kemacetan itu, dan ku pikir satu satunya cara untuk itu adalah ikut PO yg keberangkatannya lebih awal, kenapa? Karena saat bis tiba di titik kemacetan, niscaya lalu lintas belum dipenuhi oleh bis bis malam yg berangkat di waktu normal, sehingga memungkinkan macetnya belum terlalu parah.
Agra Mas, ya... seketika terlintas di pikiranku untuk menggandeng PO yg dulu pernah mengecewakanku itu. Namun itu dulu, saat arus balik lebaran tahun 2009, yg notabene PO berkelir merah itu belum resmi membuka trayek ke Wonogiri seperti saat ini, kalau teringat pelayanannya ketika itu, rasanya mustahil lah aku bakal mau bermitra dengannya lagi.
Tapi, sekarang lain, dari aneka kabar yg tertangkap, mengatakan bis yg bermarkas di Karawang ini reputasinya bagus, dan itu aku amin'i lantaran terus bermunculan armada armada gres utuk mengukuhkan squatnya, dan juga telah menihilkan sistem sarkawi yg dulu pernah dianutnya. Dan satu lagi, di awal trayek resmi ke Wonogirinya diraih, ada yg bilang bahwa bis ini jam 7 malam telah mencapai kota pemalang arah Jakarta, woow sungguh... di saat yg lain masih mengarungi aspal Tol Semarang, bis ini mampu melesat lebih dari 100km di depannya.
Biarlah, kenangan pahit yg lalu bersamamu akan ku hapuskan, dan kini aku harapkan untukmu memberi yg terbaik kepadaku, buktikan merahmu wahai Agra Mas...
"So, mobile sing jatah Bogor body Evolution iki, piye sido melu Agra ora?", begitulah suara earphone'ku saat jam 7 pagi nada dering HP ku memberantakkan mimpi indahku. Yups, konsekuensi yg patut di acungi jempol, bis berangkat lebih awal ditandai dengan agen yg buka lebih pagi, dan itulah suara temanku yg hendak melakukan trip bersamaku nanti, dialah yg aku percayai mecari tiga lembar tiket.
Masa bodo lah, entah armada berparas apapun yg jalan, aku tak memilah milih, yg aku mau kali ini adalah yg penting Agra Mas.
Jam sembilan aku telah stand by di pinggir jalan raya, katanya sih dari terminal take off jam 09.30 makanya aku siap 30 menit sebelum keberangkatan, bukan takut ketinggalan, tapi belajar on time, disiplin, menghargai kru gitu lah lebay'nya, hehe...
Sayang, info agen ternyata meleset 30 menit, membuat aku harus duduk dalam kebosanan selama satu jam. Jam 10.00 temanku yg lokasi penantiannya di desa Sukomangu menelfonku memberi kabar jika bis telah lepas landas, tak lama bis merah polos rajutan karoseri Bogor itupun tiba juga menghampiriku, dengan sekali kedipan mata Marcopolonya diiringi suara klakson khas hino serta kelap kelip lampu hasyrad, mengisyaratkan padaku bahwa dialah bis yg aku tunggu.
"Bagasi kabeh ora mas...", tanya sang kenek saat membukakan pintu bagasi untuk sebuah kardus dan tas jinjing yg dibawa ibuku. Tanpa ada pinta dariku, helper itu seakan langsung tanggap akan kebutuhan tempat untuk barang bawaan penumpangnya, baru kali ini lho aku menemui sesuatu seperti ini...
2AB, nomor seat untuk kami berdua, sedang temanku Piyik menempati satu seat di depanku, kursi keramat yg selalu menjadi incaran para BMC yg doyan touring.
Fasilitas selimut lengkap dengan bantalnya, hanya saja lubang AC'nya berada di dalam bagasi atas, tak terletak di setiap plafond di atas tempat duduk penumpang, melihat hal ini aku yakin bahwa bis ini sebelumnya adalah bis kota atau bis pariwisata yg di legalkan untuk divisi malam.
Sopirnya ramah, santun lagi, setiap kali satu persatu penumpang naik dari agen yg dilewatinya langsung disapa olehnya "Monggo Pak / Bu... dipun persani wonten tiket'ipun lenggahe nomor pinten...".
Keneknya juga selalu berbahasa krama baik dengan para penumpang atau dengan sopir, kebiasaan yg telah lama tak ku temui, jadi ingat kenangan saat dulu masih setia dengan Gunung Mulia, kenek selalu berbahasa halus dengan sopirnya, terkesan lebih etis, dimana jabatan lebih rendah akan menuakan dan menghormati pada yg lebih tinggi, inilah etika yg patut dicontoh.
11.30 bis memasuki terminal Wonogiri, sudah ada satu armada disitu dan ada lagi dua armada yg menyusulku, aku gak melihat kode BM berapa saja yg menjadi nomor body Agra divisi bis malam di situ.
Setengah jam waktu yg dibutuhkan untuk urusan transfer penumpang, dan mantabnya lagi bis yg aku tumpangi telah full seat dari terminal Giri Adipura ini, berarti laju bis nantinya bakal langsung bablas, tanpa mampir mampir di agen lagi, sipp lah... lumayan bisa mempercepat waktu tempuh.
Dari sini kendali setir telah beralih kepada driver yg baru, lho padahal kan belum sampai rumah makan kok sudah oplosan ya, ooh rupanya Agra menganut sistem sopir langsir, dan baru di sinilah lingkar kemudi dipegang oleh sopir pinggir aslinya.
Masuk terminal Kartasura, belum terlihat pasukan Laju Prima ngumpul di sini, pertanda bisku tiba lebih awal darinya.
Lepas Kartasura, temanku Piyik bergegas meninggalkan kursi idamannya dan berpindah ke seat CB berdampingan dengan sang kenek, aku lebih memilih tidur, enggan buat ninggalin seat 2B ku, pasalnya kalau itu aku lakukan berarti aku juga ninggalin ibuku, gak ah... lebih baik bobok manis aja...
Sebelum memasuki Tol Semarang, dua unit Purwo Widodo "Kian Santang" mulus di take over.
Tepat jam enam sampailah di persinggahan makan malam, rumah makan Raos Eco. Tempat service makannya berderet dengan Tunggal Dara Putera, Sari Giri, dan Travel. Tak ubahnya dengan Laju Prima, di sini pun lauk utama tetap diambilkan oleh si pelayan rumah makan, tidak seperti di Sari Rasa atau Taman Sari yg kesemuanya diambil oleh si penumpang yg hendak makan, sebenernya ini prasmanan apa bukan sih?
Suasana ruang makan masih sepi, hanya bisku dan satu unit Sari Giri saja sebagai penghuninya.
Jadi ingat, dulu waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah makan ini, belum ada yg namanya service makan prasmanan di sini, semua yg masuk di sini adalah dengan membayar dulu apa yg telah dipesan, baru deh dimakan.
Saat itu Timbul Jaya, Sedya Mulya, dan Serba Mulya masih berlangganan di sini, sebelum akhirnya keberadaannya tergusur oleh Laju Prima dan Agra Mas yg menguasai stand parkir di rumah makan ini.
Setengah jam berlalu, kini giliran driver tengah yg bertugas memacu mesin Hino RG ini. Kata temenku Piyik yg juga ternyata kenal akrab dengan pak sopir itu, namanya adalah Pak Tulus yg merupakan eks Gunung Mulia.
Menyusuri tanjakan Plelen Sinar Jaya 55 AC harus rela memberi jalan untuk pak Tulus maju ke depan, di Subah Gunung Harta mesti terlewati karena lajunya yg merayap, pariwisata Muda Perkasa dan AM Shantika pun pasrah saat diasapi di Batang, hingga akhirnya harus terjebak kemacetan yg lumayan panjang bersama Sinar Jaya 26 2X, Dedy Jaya "One Heart", dan Coyo di Pekalongan lantaran adanya acara pembukaan Mall baru.
Sepanjang perjalanan, sang sopir dan kenek banyak membicarakan uang jalan yg di jatahkan manajemen pada kru, mulai dari konsumsi solar, uang makan, uang cuci bis, sampai pada sisa dari keseluruhan biaya satu perjalanan yg nantinya bakal menjadi hak milik ketiga kru itu.
Kenek yg akhirnya ku ketahui bernama Pukit adalah orang Pacitan, yg saat ini sedang di alih tugaskan untuk line Purwantoro. Dalam pengakuannya dengan pak Tulus, sebelumnya dia bekerja di Pacitan Jaya Putra untuk bis kecil jurusan Pacitan-Nawangan, semenjak reputasi perusahaan yg dinaunginya meredup, kemudian dia memilih hengkang dan sampai sekarang bercengkrama dengan Agra Mas. Dikatakan pula, konon keseluruhan armada PJP saat ini hendak dijual dengan nilai 4M termsuk garasi dan ijin trayeknya.
Sebelum masuk Tol Cirebon, pak Tulus menghentikan armadanya, sementara Piyik turun untuk mengganjal ban menggantikan tugas seorang kenek karena dialah yg saat itu menduduki seat CD. Entah kenapa mesti diganjal, apakah armada eks Marissa Pariwisata ini fungsi Hand Rem'nya telah ditanggalkan?
Setelah mata terpejam, aku kembali terjaga ketika bis berhenti di rumah makan Taman Sari untuk kontrol penumpang.
Dari sini kendali setir masih tetap dipegang pak Tulus.
Kemacetan di Pemanukan menjadikan pak Tulus ragu untuk memilih lewat jalan mana, antara jalan alternatif menghindari macet atau tetap lewat jalan utama menerjang kemacetan panjang. Akhirnya pak Tulus memberanikan diri untuk tetap melaju di jalur utama dengan alasan waktu dini itu adalah hari Minggu yg niscaya lalu lintas tak seramai hari kerja, dan benar saja, ternyata justru tiada sedikitpun kemacetan yg terjadi di sini, sipp deh, bakal tiba di Jakarta sebelum fajar.
Oplosan driver pinggir berlangsung di Poll Karawang. Dari sini kenek tampak sibuk dengan DP (Daftar Penumpang) yg ada di tangannya, tak lain seperti seorang kenek bis bumel yg memberi aba aba turun pada penumpangnya. Yups, beginilah mestinya tugas seorang kenek, mengatur naik turunnya penumpang, dengan begitu maka tak akan ada kejadian penumpang kebablasan, toh itu juga bisa mencerminkan reputasi lebih lagi kan untuk PO nya.
"Pall, Pall, ingkang Pall wonten tigo, monggo persiapan...", hingga akhirnya aba aba mas Pukit pun jatuh padaku, di sini lah aku, ibuku, dan Piyik turun.
Ku lihat jam di HP, 04.00... Waktu yg masih begitu pagi, masih ada senggang waktu untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Bekasi nanti.
Semua berakhir seperti apa yg ku harapkan, kini telah kau buktikan merahmu padaku wahai Agra Mas...